Perjalanan Dinas – Sindo 17 Mei 2012

Seorang pembaca menulis, kalau dari 4,7 juta PNS menghabiskan biaya perjalanan dinas sebesar Rp 23,9 Triliun (2012), maka rata-rata perorang PNS hanya menghabiskan biaya sebesar Rp 5,1 juta rupiah. Namun yang membuat hatinya tersayat-sayat adalah fakta ketika ia membaca perjalanan dinas 560 orang anggota DPR yang tahun ini dianggarkan sebesar Rp 140 milliar. Kalau dibagi rata, maka setiap orang wakil rakyat yang kaya-kaya dan senang belanja itu menghabiskan sekitar Rp 250 juta.

“Wajar” Katanya, “Bila mereka diprotes mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di luar negeri.”

Perjalanan dinas yang besar telah menjadi ciri birokrasi dan kekuasaan pasca reformasi. Di berbagai media kita membaca, anggaran perjalanan dinas terus dicuri orang-orang tak bertanggung jawab dengan tiket-tiket bodong. Namun anehnya, bukan dikurangi, budget ini justru terus diperbesar. Dari rencana semula Rp 2,9 Triliun (2009) menjadi Rp 15,2 Triliun. Lalu hanya selisih dua tahun, angkanya sudah berlipat dua tahun ini menjadi Rp 23 triliun.

Bagaimana bangsa ini mengatasi masalah ini?

Rampingkan Semuanya
Organisasi pemerintahan yang gemuk adalah ciri pemerintahan World 1.0 yang saya bahas minggu lalu, sedangkan di era early globalization yang ditandai dengan desentralisasi dan deregulasi, pemerintahan yang sehat dan pro rakyat tidak memerlukan PNS dalam jumlah besar. Kalau pemerintahan mau sehat dan rakyatnya memiliki daya juang yang tinggi, berikan ruang yang besar pada masyarakat untuk berpartisipasi. Inilah ideologi pemerintahan di World 2.0.

Tetapi alih-alih menjadi ramping, di era desentralisasi ini, jumlah pejabat ditingkat pusat justru berlipat ganda. Jumlah pejabat eselon satu dalam beberapa tahun terakhir ini telah berlipat dua. Kalau yang diatasnya berlipat dua, otomatis yang dibawahnya ikut berlipat-  sudah begitu jumlah badan dan komisi-komisi terus bertambah, dan maing-masing menuntut tambahan sekretars jenderal dan deputy yang kedudukannya setara dengan eselon 1. Dan sekarang pun ada eselon 1 dan ada eselon 1A.

Sementara jumlahnya terus bertambah, kualitas layanan tidak membaik. Fungsi pemerintah pusat berkurang tetapi orangnya terus bertambah. Di berbagai daerah, masalahnya juga sama saja. Daerah-daerah terus menuntut pemekaran, dan semua pegawai tidak tetap menuntut di PNS-kan.

Di beberapa propinsi saya menemukan kepemimpinan-kepemimpinan buruk yang mengakibatkan PNS adalah satu-satunya pilihan bagi kaum muda untuk bekerja. Industri tidak digerakkan dan pertanian dibiarkan mati suri.

Padahal sejak tahun 1990-an negara-negara yang perekonomiannya sehat telah mengajarkan kita bahwa pemerintahan yang kuat adalah pemerintahan yang ramping. Ramping jumlah orangnya, dan ramping strukturnya. Negara harus bertobat untuk mengurus semua hal kalau tidak bisa mengaturnya. Lebih baik bekerja dengan struktur yang simpel dengan orang-orang terpilih yang diberi gaji besar daripada menjadi semacam lembaga sosial yang menampung pengangguran dengan gaji kecil-kecil sehingga banyak orang mempunyai alasan untuk mengambil penghasilan di luar dari pendapatan resmi.

Pegawai yang besar jumlahnya dengan gaji yang kecil telah mengakibatkan tak ada kontrol dan tak ada pembinaan. Orang-orang yang semula bagus, entah mengapa, setelah lima sepuluh tahun bekerja di birokrasi banyak yang terkontaminasi, menjadi kurang produktif dan tidak disiplin.

Birokrasi telah berubah menjadi organisasi yang sangat gugup dan begitu kuat untuk melayani dirinya sendiri.   Boleh dikata apapun yang dibutuhkan para pegawai ada di tempat setiap kantor kementerian atau badan-badan milik pemerintah, meski tidak merata dan tergantung pada power yang mereka miliki.

Banyak kantor kementerian yang setiap level direktorat jenderalnya memiliki balai diklat sendiri-sendiri lengkap dengan prasarana yang hebat, namun sayang kualitas trainernya maaf, masih perlu  di upgrade kembali. Mereka masing-masing memiliki fasilitas ruang rapat yang bagus, termasuk vila yang besar di puncak, tetapi lebih senang menyewa kamar di hotel. Sebagian kementerian  punya lapangan sepakbola, kolam renang dengan kualitas sedikit di bawah stadion nasional dan tentu saja segudang fasilitas lainnya.

Kalau mau bepergian, urus kenaikan pangkat sampai urus kematian ada seksi pembaca doa.  Semuanya lengkap ada didalam. Pendeknya, Birokrasi memiliki kemampuan melayani atasan sendiri yang prima. Par Excellence.

Namun keterampilan melayani keatas yang berlebihan ini  tidak diikuti dengan kemampuan melayani masyarakat dengan baik. Perijinan dan infrastruktur justru mendapat keluhan terbesar. Belum lagi pelayanan-pelayanan rutin. Prosesnya berbelit-belit, lama dan terkesan kurang orang, kurang dukungan prasarana. Padahal birokrasi kita gemuk dan sudah terlalu banyak orang. Bukankah ini sudah saatnya berbenah?

Evaluasi-Eliminasi
Merampingkan birokrasi memang tak semudah membalikkan tangan. Apalagi ditengah-tengah sistem politik seperti ini akan semakin besar tantangannya. Namun apapun bentuk sistem politiknya saya kira sudah saatnya dilakukan 3E, yaitu Evaluasi, Estimasi, dan Eliminasi.

Inilah saatnya melakukan evaluasi apakah kita ingin terus hidup seperti ini atau berubah. Birokrasi tak bisa diperkuat hanya melalui kepemimpinan perseorangan. Ia harus dibongkar, bahkan dirancang ulang. Evaluasi ini hanya meliputi 3R, yaitu Requirement,return, dan reward. Tetapi dengan sistem dan budaya yang seperti ini, umumnya evaluasi hanya dilakukan untuk mengejar kenaikan imbal jasa (reward), sedangkan kinerjanya (return) dan kualifikasi (requirement) diabaikan.

Para pemimpin hendaknya menyadari bahwa dalam setiap lembaga terjadi tiga hal berikut ini dalam pengelolaan SDM, yaitu abuse, diuse dan misuse. Intinya, hanya ada sedikit orang yang melakukan pekerjaan segudang (abuse) dan ada banyak orang yang kerjanya hampir tidak ada atau terlalu sedikit (disuse). Sementara itu, bagian terbesar pegawai di birokrasi justru mengalami misuse:  Terlalu banyak orang melakukan hal yang salah.

Pengalaman saya di birokrasi menemukan ketiga hal diatas menjadi sangat biasa dalam pekerjaan sehari-hari. Menteri-menteri lebih sibuk mengurusi panggilan parlemen dan melakukan perjalanan dinas atau hal-hal teknis. Tak ada yang memikirkan kelembagaan dan masa depan kementerian. Ketika merasa frustasi, menteri-menteri lalu memilih bekerja dengan staf-staf khusus dan pejabat-pejabat tertentu saja, sedangkan sisanya urus diri masing-masing.

Biaya perjalanan dinas yang membengkak bagi saya adalah sebuah alarm peringatan bahaya, bahkan birokrasi kita telah semakin tambun dan sibuk urus dirinya sendiri. Inilah saatnya untuk meremajakan, melakukan transformasi mendasar untuk menciptakan pelayanan yang lebih baik.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Asteroidpreneur – Jawapos 14 Mei 2012

Impian di masa kecil bisa berdampak di masa depan kalau Anda punya kecerdasan otot (myelin) untuk menemukan “pintu-pintu”-nya. Tentukanlah!

Pesan seperti itu sudah sering saya ucapkan tetapi menjadi semakin riil saat saya bertemu seorang spacecraft engineer yang sedang berlibur di Butchart Garden yang sejuk di British Columbia-Kanada. Pria keturunan Rusia yang meraih gelar Ph.D dari Standford ini bekerja pada dua “pemimpin” besar yaitu Eric Anderson – yang dikenal sebagai pengusaha biro perjalanan wisata ke luar angkasa (Space Adventures)  dan sudah menerbangkan tujuh milyuner – dan Peter Diamandis – Pendiri Ansari X-Prize Foundation, lembaga pengembang teknologi luar angkasa.

Kedua orang itu baru saja mendirikan Planetary Resources, Inc. yang akhir bulan lalu diluncurkan. Semua orang terkejut karena keduanya datang dengan gagasan yang original, yaitu menambang asteroid. Ya, ketika para insinyur Indonesia menekuni bisnis kue serabi, pecel lele, ayam bakar, jamur goreng, dan kebab, insinyur-insinyur kelas dunia sudah menjelajahi luar angkasa. Anda mungkin ingin membantahnya. Mungkin Anda bukan insinyur kuliner yang saya maksud. Tetapi bukankah insinyur-insinyur kita masih belum merealisasikan mimpi-mimpi di masa kecilnya dengan ilmu yang sudah ada di kepalanya?

Di pulau terpencil di Maluku dan Papua saya sering bertemu dengan insinyur-insinyur lulusan sekolah-sekolah terkenal yang sibuk menambang di perut bumi. Keluarganya hidup tenang dengan gaji besar, namun terlihat gelisah menjelang berakhirnya hak penambangan atau habisnya cadangan. Tak ada creative thinking yang benar-benar kreatif.

Di Butchart Garden, insinyur spacecraft yang saya temui begitu tergila-gila bercerita tentang impiannya membangun robot untuk menambang logam sekelas platinum dari asteroid yang mendekati bumi.

Bergeraklah!
Di hotel kecil tempat saya menginap di Kanada, malam itu saya mencari literatur dan info yang saya terima dari insinyur tadi. Seorang profesor yang saya kenal di Universitas Yale juga saya hubungi. Ternyata apa yang diceritakan insinyur tadi benar-benar riil.

Di dalam team yang dibangun Planetary Resources ada nama-nama besar dari Google seperti Eric Schmidt dan Larry Page. Ada putra bilioner yang pernah menjadi penantang Bill Clinton menjadi presiden dari kubu independen, Ross Perot. Lalu ada mantan astronot Tom Jones, scientist Sara Seager, dan ada mantan pembuat film science fiction, James Cameron.

Justru kehadiran James Cameron-lah yang menjadikan penambangan asteroid berita yang penuh humor. Stasiun televisi CBS menanyakan repoter ahlinya begini: “is this real or just a science fiction?” Reporter ahli itu menjelaskan bahwa kali ini yang mereka dengar adalah riil. Inilah era baru yang disebut sebagai asteroidpreneurship.

Asteroidpreneur tidak membangun usaha dari apa yang sudah dilakukan orang lain. Metodenya bukan ATM (Amati, Tiru, dan Modifikasi) yang sering disebutkan para motivator dadakan. Mereka benar-benar menciptakan sesuatu yang baru dan original, berbekal pengetahuan dan data.

Asteroidpreneur juga mengambil risiko sedahsyat kecepatan asteroid memasuki atmosfir bumi, tetapi mereka berhitung. Coba bayangkan investasinya, saya baca dari sebuah literatur, untuk membuat robotnya saja dibutuhkan investasi US$ 2,6 miliar. Investasi ini tidak kecil, apalagi return-nya belum pasti.

Pertama,  mereka perlu membuat robot. Pilihannya ada dua, robot itu menambang di luar angkasa, atau sekedar menggandeng asteroid pulang ke bumi dan di tambang di sini. Kedua, mereka perlu satelit yang dilengkapi teleskop dan scanner bahan-bahan moneral. Satelit itu bertugas melakukan mapping dan menyeleksi mana asteroid yang paling “renyah” dengan kandungan mineral tinggi.

Ketiga, membangun industri pengolahan. Dan  keempat, diperhitungkanlah dampak perubahan harga. Logam-logam yang diduga ada di asteroid adalah logam keluarga Platinum, mulai dari Platinum, Palladium, Osmium dan Iridium. Saat ini, Platinum saja harganya hanya terpaut sedikit di bawah emas. Dan menurut perhitungan, satu unit asteroid ukuran sedang bisa ditambang sekitar 130 ton platinum, dan menghasilkan US$ 6 miliar.

Tetapi return sebesar itu hanya bisa dinikmati dengan asumsi terjadi kelangkaan. Kalau penambang asteroid jadi dilakukan dan hasilnya bisa digarap besar-besaran, sudah pasti harganya akan turun dan asteroidpreneur harus memperhitungkannya. Apalagi setiap kali misinya, biaya operasional sekitar US$ 30 juta.

Namun bagi asteroidpreneur, berhitung bukan untuk menghindari kesempatan. Melainkan untuk bergerak seperti saat Christopher Columbus mengajukan proposal kepada Raja Portugal untuk  mengeksplorasi dunia lewat jalur barat. Dua kali proposalnya ditolak. Ia tidak menyerah. Hampir semua orang kaya Eropa (saat itu adalah raja) ia dekati. Bukan Bank. Raja Inggris menunda-nunda proposalnya, namun berkat Ratu Isabel, ia berhasil menjelajahi Atlantik, tetapi misinya gagal mencapai India, terdampar di Amerika.

Tetapi meski gagal, dunia diuntungkan. Saat diolok-olok penjelajah lainnya ia hanya berkata ringan, “Hanya orang malas yang tidak bergerak, orang-orang ini hanya pintar bicara saja tanpa pernah berbuat. Tetapi kalau Anda bergerak kemungkinan tersasar pasti ada. Tetapi kalau Anda tak mau kesasar, Anda tak pernah menemukan jalan baru.”

Saya kira itulah pedoman hidup asteroidpreneur. Berani mencoba?

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Empat Dunia Yang Membingungkan (2) – Sindo 10 Mei 2012

Di selatan Amerika Serikat ada sebuah kota yang terbelah dua, dipisahkan oleh pagar kawat yang tinggi dan di atasnya berduri. Pemisahan ini, mirip dengan pembagian dua korea yang terjadi tak lama setelah perang dunia ke 2 berakhir. Kota itu bernama Nogales dan yang terletak di State of Arizona, Santa Cruz County disebut Nogales – Arizona. Nogalez – Arizona adalah wilayah Amerika Serikat. Sedangkan di sebelah selatan kawat pemisah juga bernama Nogales, yaitu Nogales Sonora, yang berada di bawah pemerintahan Mexico.

Nogales Arizona dan Nogales Sonora menjadi perhatian dua profesor ekonomi, Daron Acemoglu dan James Robinson. Sama tertariknya mereka dengan dua Korea yang berbeda nasib, padahal keduanya berbagi alam dan budaya yang sama. Mereka makan makanan yang sama, bernenek moyang sama, dengan DNA serupa, mendengarkan musik yang sama, namun rezekinya kok tidak sama. Kedua Nogales dulunya adalah jajahan Spanyol, sehingga mereka mempunyai darah Eropa dan berbahasa Spanish. Tetapi penduduk Nogales Arizona menikmati pendapatan / kapita USD 30.000, sedangkan Nogales Sonora hanya sepertiganya.

Yang satu lebih banyak senyum, pendidikan yang dapat dicapai masyarakatnya rata-rata tinggi, punya akses pada perawatan kesehatan yang tak terbatas dan tingkat harapan hidupnya sepuluh tahun lebih tinggi dari penduduk yang tinggal di sana. Yang satu bebas dari kekhawatiran- kekhawatiran ekonomi atau ketakutan politik, sedangkan yang satunya lagi penuh kekhawatiran terhadap hari ini dan hari esok.

Hal yang sama juga terlihat antara Korea Utara dengan Korea Selatan. Tingkat kebahagiaan dan kesejahteraan keduanya berbeda bak langit dan bumi.
Apakah yang membedakan antara keduanya?

Dunia Isolasi
Bagi saya pengkontrasan kedua lokasi seperti itu sangat penting untuk merefleksikan strategi pembangunan apa yang tepat untuk bangsa ini. Peng-kontras-an adalah sebuah metode yang sering saya pakai untuk “membantu melihat” atau membukakan mata para pemimpin agar bisa dengan jelas “melihat yang tak terlihat” dalam melakukan change atau transformasi. Kontras antara dua elemen — bukan lima — yang disandingkan secara tegas, akan melahirkan kesadaran perbedaan yang besar.
Sama halnya ketika kita membandingkan antara dua calon Presiden atau dua calon Gubernur. Ini jauh lebih mudah untuk memutuskan dari pada lima kandidat yang masing-masing diusung partai politik utama dan partai politik pendamping yang berbeda-beda.

Rakyatnya bingung, pemimpinnya apalagi. Jadi kontrasnya tidak ada bila tidak fokus. “Kontras” hanya muncul bila kita kerucutkan sebuah masa depan ke dalam dua kelompok saja, seperti pilihan antara sekarang atau masa depan, from or to, miskin atau sejahtera dan berubah atau mati.

Pengkontrasan dua dunia menjadi penting.  Dari pengamatan itu ditemukan pemahaman bahwa negara-negara atau daerah-daerah yang dimanajemeni dengan cara berbeda, akan memberi hasil yang berbeda. Jadi bukan soal Leadership, melainkan manajemen untuk menghasilkan great leaders ke atas permukaan. Bukan juga soal “alat-alat”pemberantasan kemiskinan seperti BLT, subsidi, proyek-proyek PNPM atau desa mandiri energi – melainkan bagaimana semua itu dikelola, dimanajemeni. Manajemen itu ditentukan oleh sistem politik yang dibangun suatu bangsa yang memungkinkan lahirnya pemimpin-pemimpin besar, dan memungkinkan “koboi-koboi politik” yang telah melukai hati rakyat tidak terpilih kembali.

Jadi ada dunia yang terisolasi, yang selama bertahun-tahun hanya heboh mengganti-ganti rezim namun rakyatnya tetap miskin. Mengapa demikian? Jawabnya adalah karena sistem politik dan manajemennya tidak berubah. Kita di sini sudah mengalami pergantian yang revolusioner dari kekuasaan sentralistik kekekuatan reformatif, tetapi sistem politiknya tetap sama,  dari sistem yang korup, ke sistem yang mungkin lebih korup.

World 0.0 dan World 1.0
Pankaj Ghemawat menjelaskan dunia telah beralih dalam proses evolusi yang panjang dari World 0.0 yang level hidupnya penuh keterbatasan ke dunia 3.0 yang serba kompetitif. World 0.0, sama seperti kehidupan masyarakat adat di desa Waeapo Pulau Buru yang sebagian kaum wanitanya bahkan belum mengenal pembalut, dan kaum prianya masih mengunyah sirih dan biji pinang. Berbekal tombak dengan dua buah parang di pinggang. Berkebun cokelat tetapi tak mengenal cangkul.

World 0.0 yang saya geluti adalah dunia yang dikelola kelompok-kelompok adat kecil, dengan 50-75 kepala keluarga di setiap desa, dan membentuk sebuah masyarakat adat di bawah kepemimpinan karismatik seorang raja yang membawahi ribuan hektar tanah adat dengan sekitar seribu kepala keluarga.

Dunia 0.0, kata Pankaj adalah dunia subsistem, dan tak mengenal polisi. Tak ada yang dilaporkan kalau ada “koboi” dari luar yang mengacung-ngacungkan pistol. Tentu mereka tidak bebas dari ancaman, kalau sewaktu-waktu mendapat serangan. Maka setiap pria di dataran Waeapo membawa parang berukir kemanapun pergi sebagai senjata.

Oleh karena  itulah Dunia 0.0 berevolusi membentuk  a nation state,  sebuah kesatuan teritorial yang dijaga undang-undang, teritori, tentara dan armada-armadanya. Dunia 1.0, bagi Pankaj adalah dunia yang dibentuk oleh spirit nasionalisme. Tentara dan birokrat, national border dan tentu saja partai-partai yang berbasiskan spirit nasionalisme. Cara berpikirnya adalah cara berpikir proteksionis dan diperkuat adalah negara. Peran negara yang besar dan kuat.

Celakanya Dunia 1.0 tidak bebas dari gempuran luar. Sejak Columbus berkelana, bangsa-bangsa Barat menggempur kawasan-kawasan lain menjadi “pasar” sekaligus sebagai koloni bahan-bahan baku. Dunia 2.0 bertarung melawan Dunia 1.0 sampai terbentuk kompromi-kompromi yang terlihat lebih damai. Dunia 2.0 adalah sebuah awal bagi proses globalisasi.

Dunia ini menjadi membingungkan karena sebagian dari kita masih tinggal secara fisik, bahkan secara pikiran, di World 0.0, dan sebagian sudah berada di Dunia 2.0. Tetapi banyak juga orang yang sudah secara fisik tinggal di Dunia 2.0, namun pikirannya masih berada di Dunia 1.0.

Dunia 1.0 adalah perekonomian yang mengagung-agungkan peran negara, subsidi dan pegawai negeri yang uang belanjanya besar dan gemuk. Sedangkan Dunia 2.0 adalah dunia ekspansionis yang menuntut peran swasta yang besar, peran negara yang terbatas, dan tak terkekang dengan birokrasi. Sedangkan Dunia 0.0 adalah dunia yang membutuhkan uluran tangan, dengan gedung sekolah yang hampir ambruk, kandang sapi menyatu dengan ruang tamu, dan rumah tanpa listrik, jalan tanpa aspal, bahkan kaki tanpa alas sepatu.

Sampai sekarang tampaknya negara-negara sejahtera sendiri sudah meninggalkan cara berpikir World 1.0 yang menghasilkan birokrasi yang tidak efisien dan politik yang kumuh menjadi World 3.0 yang lebih modern. World 3.0 melihat kepentingan nasional bukan dari eksplotasi sumber daya alam, melainkan kekuatan modal manusia (human capital) yang inklusif, multi racial, berbasiskan ilmu pengetahuan dan mengeksplorasi alam semesta dengan pemikiran-pemikiran baru.

Yang satu mengagung-agungkan pasar dan peran swasta, yang satunya masih mengagung-agungkan peran teritorial dan negara. Yang satu berteriak-teriak kebebasan, yang satunya lagi anti globalisasi. Itu sebabnya kita tidak pernah tuntas, semua bertarung di dalam, membuat dinding-dinding pertahanan mudah berlubang dan masuk angin. Jadi apa yang harus diperbuat dengan logika gado-gado yang tak bermuara pada konsensus?

Saya dan Anda tentu punya pilihan, namun pilihan yang tak bermuara pada konsensus hanya akan membuat Indonesia berada di seberang pagar garis kesejahteraan. Sementara di seberang pagar ada Malaysia, Singapura, Thailand dan China yang memilih hidup di Dunia 3.0. Persis seperti Nogales yang terbelah pagar kawat berduri, antara Nogales-Arizona dan Nogales Sonora. Janganlah Indonesia menjadi Sonora, sedangkan Arizonanya dinikmati kapitalis seberang yang memiliki jaringan perbankan, telekomunikasi, dan perkebunan-perkebunan di sini, yang dulu milik kita sendiri.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan
Artikel di Sindo

Ekonomi Urban Center – Jawapos 7 Mei 2012

Dari Bandara International San Francisco, hari Rabu  minggu lalu saya sudah siap meluncur menuju kota satelit di Castro Valley yang jaraknya sekitar 100 miles. Kalau 10 tahun yang lalu saya minta dijemput, kini saya merasa lebih nyaman mengemudikan sendiri mobil sewa yang sudah saya pesan lewat internet. Sebuah alat pemandu jalan digital (GPS) yang dipandu oleh satelit sudah di tangan. Kami membayar sekitar USD 500 untuk sewa mobil SUV yang sudah diisi penuh bensin nonsubsidi dan asuransi selama 4 hari. Perkiraan saya, paling lama 1 jam sudah sampai. Namun diluar dugaan perjalanan mulur menjadi dua jam.

Bukan karena macet, melainkan mesin GPS mengacaukan perjalanan. Setiap ada kota-kota baru, kami “dipaksa” exit, berkeliling barang lima belas menit berputar-putar. Maklum GPS punya cara berpikir sendiri. Namun saya tak merasa dirugikan. Saya tersesat diantara industri yang dibangun dengan cara-cara berpikir baru, yaitu berkembang pesatnya start-up company  di sekitar lembah Silikon dari San Francisco hingga San Jose. Kota-kota baru bermunculan, menarik orang-orang muda berpendidikan dari manca negara, dan mereka menciptakan kesejahteraan-kesejahteraan baru bagi ekonomi California yang sempat bangkrut di bawah gubernur Arnold Schwarzenegger.

Menurut sejumlah hasil penelitian, kehidupan manusia diawal abad 21  telah berubah menjadi komunitas-komunitas  urban yang dibentuk oleh kewirausahaan dan industri properti. Bila pada tahun 1800 hanya 3% penduduk dunia yang tinggal di kota, maka pada abad 19 telah berubah menjadi 47%.  Kota- kota lama seperti Bagdat, Kairo dan Roma menjadi pusat kegiatan para elit dan pengambil keputusan politik yang pnting.  Tetapi di abad ini kota adalah segala-galanya. Menurut data dari PBB, tahun ini saja ada 3,8 miliar. Jadi wajar kalau Anda akan tersesat setiap memasuki kota-kota besar yang lama Anda tak kunjungi. Jangankan San Francisco, ke Bandung saja atau jalan-jalan ke daerah Bintaro saja, Anda bisa tersesat.

Big Opportunity
Big problem, Big Opportunity. Bayangkan bila 3 dari 5 penduduk dunia sudah tinggal di daerah perkotaan, maka hilanglah memory masa lalu anak-anak kita tentang sawah dan belut, surau atau beduh, atau air yang mengalir dengan suara ayam jago yang membangunkan pagi hari kita. Demikian pula dengan sapu lidi saat emak-emak menyapu jalan, Semua digantikan dengan suara elektronik:  alarm, loud speaker, arungan suara ambulans, klakson mobil dan tentu saja bantingan pintu mobil dan jingle  televisi.
Padahal, dulu kota adalah sebuah imajinasi keindahan. Filsuf Ibnu Khaldun, pada tahun 1382 mengatakan Kairo adalah “Metropolis of the universe, the garden of the world ” Bahkan Thomas Cagut yang mengagumi Venesia menyebutnya sebagai “The most beautiful queen.” Tak dapat saya bayangkan bagaimana dulu para khalifah tertarik dengan Yerussalem dan Damaskus, atau bagaimana para seniman-seniman tergila-gila dengan Paris dan Roma. Tetapi sejak kota menciptakan daya grafitasi yang liar, ia telah berubah menjadi pusat segala masalah.

Di Praha saja, para penduduk kota begitu cemas karena tingkat pertumbuhan penduduknya rendah, tetapi ada satu komunitas yang justru tumbuh cepat, yaitu kaum gypsi. Masalahnya, kaum gypsi ini sulit diatur, hidupnya nomaden dan banyak menimbulkan masalah kriminalitas. Tiga dari empat pengutil yang ditangkap, hampir pasti orang gypsi. Nah, kalau mereka menguasai kota, maka kekuatan politik pun akan berubah. Mereka akan menjadi penentu masa depan. Sama seperti benturan budaya yang terjadi di Brussel, Belgia dengan komunitas yang berasal dari kelompok arab.

Singkat cerita, banyak masalah adalah banyak peluang. Bahkan kesejahteraan suatu bangsa, menurut dari ahli urban economics, kelak akan ditentukan bagaimana bangsa itu memilih walikota-walikota dan gubernur-gubernurnya, bukan lagi presiden. Menurut Marc Weis dari Prague Institute for Global Urban Development, “Cities are the fundamental blocks of prosperity.”  Jadi bila Anda salah memilih walikota, Anda akan menyaksikan kemiskinan dan keadilan ada di sekeliling kota tempat tinggal Anda. Dengan demikian kesejahteraan manusia abad ini ditentukan oleh kualitas kota-kota itu ditata.

Kota-kota besar itu tengah bergeser menjadi semacam manorial government, seperti yang pernah dialami oleh Virginia dan Massachuset di abad 18, dimana pemerintahan dikuasai oleh para pengembang property. Kota lebih tertata, tetapi mereka bisa mengubah peta demokrasi dan suara orang kota lewat kekayaan dan tanah yang mereka kuasai. Jalan-jalan mereka ubah, dan persoalan-persoalan kota mereka ciptakan.  Jngan-jangan itu pula yang tengah terjadi sekitar megacities Jabodetabek dan Surabaya.

Global GDP
Mckinsey Global Institute (MGI) belum lama ini mengeluarkan hasil penelitiannya yang dilakukan terhadap 2000 metropolitan area di seluruh dunia. Studi ini menyimpulkan bahwa 60% global GDP ternyata telah dihasilkan oleh hanya 600 kota (Urban Center) di seluruh dunia. Bila pada tahun 2007, 308 kota besar itu ada di negara-negara maju dan dari negara berkembang hanya berkontribusi 10% dari Global GDP, maka pada tahun ini kekuatan itu justru datang dari negara-negara sedang berkembang.
Hanya saja MGI mengingatkan, potensi itu tengah bergeser dari Megacities (dengan penduduk diatas 10 juta) ke kota-kota menengah (penduduk antara 150.000 hingga 1 juta jiwa). Hari ini saja, kontribusi ke 23 megacities itu hanya 14% dari global GDP, dan akan turun menjadi 10% pada tahun 2025. Sedangkan midcities yang berjumlah 577 juta, pada tahun 2025 akan memberi kontribusi diatas 50% terhadap pertumbuhan GDP global.

Anda tentu ingin tahu dimana saja pusat-pusat masalah, eks pusat peluang ekonomi dunia itu. Menurut Majalah Far Eastern Economic Review, pada 2025 di Asia akan ada 10 kota mega dengan penduduk di atas 20 juta. Diantaranya adalah Mumbay (33 juta jiwa), Shanghai (27 juta jiwa), Karachi (26,5 juta jiwa), Daka (26 juta jiwa) dan Jakarta (24,9 juta jiwa).

Kota-kota ini menjadi pusat pergerakan uang, manusia, politik, jasa-jasa baru, kewirausahaan, inovasi, pendidikan dan tentu saja kriminalitas. Bisnis akan tetap senang berkumpul di kota-kota besar karena mayoritas pekerja usia produktif dan pemilik-pemilik bakat-bakat cemerlang ada di sana. Ini akan menjadi masalah baru dalam penataan ekonomi Indonesia ke depan.  Kalau sudah begitu, tak cukup hanya infrastruktur seperti irigasi saja yang perlu diberikan untuk mempertahankan keberadaan petani, melainkan insentif lain yang sangat menarik.  Kalau tidak, anak-anak petani pun akan memilih pindah ke kota dan tak ada lagi padi yang menguning. Wajar saja kalau tanah yang Anda gali bukan keluar air bersih, melainkan tomcat dan hama-hama yang tak pernah Anda kenal.

Rhenald Kasali
Founder Rumah Perubahan

Telah terbit: CRACKING ENTREPRENEURS

Telah terbit buku terbaru Rhenald Kasali, Ph. D, Cracking Entrepreneurs, yang mengulas perjuangan 19 orang wirausahawan dalam berbagai bisnisnya: batik, bordir, dodol, hingga rangka baja dan pembangkit listrik mikrohidro. Setiap kisah mengalami pasang surut yang berharga untuk mendapatkan pembelajaran, termasuk masalah modal dan gempuran globalisasi.

Pengalaman para pelaku usaha UKM dalam buku ini dapat menjadi contoh bagi Anda yang ingin memulai usaha sekaligus juga jendela inspirasi bagi Anda yang sudah menekuni bidang ini. Tentukan sejak sekarang, akan dibawa kemana bisnis Anda!

Spesifikasi:

  • Ukuran: 20 x 20 cm
  • Tebal: 300 halaman
  • Terbit: Mei 2012
  • Cover: Softcover
  • ISBN: 978-979-22-8263-4

Empat Dunia yang Membingungkan – Sindo 3 Mei 2012

Seperti 10 tahun silam, di jantung Kota New York jarang ditemui kaum muda berpakaian kasual. Memasuki pintu Gedung Yale Club di Vanderbilt Avenue, tertera tulisan tentang dress code yang berlaku, yaitu business attire.Tulisan seperti itu ada di banyak tempat.

Tak ada jins atau sepatu kanvas. Hanya jas hitam setelan Wall- Street dengan jemputan limo dan aroma financial center. Namun sarapan pagi teramai tetap ada di kedai-kedai kecil kaki lima yang dulu hanya menjajakan bagels dan hotdog. Globalisasi menggeser bagels dan hotdog menjadi kebab, chicken kungpao, colombian coffee, dan curros dari Brasil yang dimasak imigran asal Arab, Iran, China,atau Pakistan.

Sementara di highway tetap dapat ditemui sopir-sopir truk kulit putih bertubuh besar, bercelana jins dengan aneka tato bendera nasional. Bahkan truk Volvo yang datang dari Swedia saja gagal menembus dominasi dan nasionalisme pekerja transportasi ini.Mereka hanya ingin truk buatan Amerika. Di Vancouver, Kanada, ribuan imigran yang bekerja sebagai sopir taksi biasa memutar puji-pujian berbahasa India.

Tak peduli penumpangnya dari negara mana atau beragama apa.Yang jelas mereka berasal dari daerah yang sama di India dan pendengar setia radio dan televisi channel India yang gelombangnya bisa ditangkap di Amerika dan Kanada. Di tepi Jalan Burrard yang ramai, Sala Thai dan kios Japadog tak pernah sepi. Tamunya tentu saja beragam. Ada bule yang makan nasi goreng nanas (yang disajikan di atas potongan nanas besar yang dibelah dua) porsi besar, atau orang Asia yang selalu minta tambahan cabai iris.

Kios-kios kaki lima Japadog yang jumlahnya puluhan di Vancouver mirip dengan usaha gerobak-chise anak-anak muda di sini. Kalau di Yogya, usaha seperti ini agak mirip seperti jaringan usaha kaki lima nasi kucing angkringan yang dikelola orang-orang yang berasal dari Purwokerto. Kudapan yang disajikan Japadog agak mirip dengan hotdog di New York. Namun globalisasi telah menggeser hotdog lama yang rasanya datar menjadi kobe beef, chicken teriyaki dan sup misu.

Tentu saja topping-nya bukan mayonais keju, tetapi rumput laut, togarasi, picanta, dan wasabi. Namun di Busyro, kota ziarah Suriah, dan Kanaan, Palestina, masih biasa kita temui petani Arab yang bersahaja, menunggang keledai dengan raut muka yang tetap ceria di antara derungan Lexus yang menyalip tak sabar.

Sama bersahajanya dengan penduduk Desa Metar di Waeapo, Buru Utara, yang masih setia memakai ikat kepala yang diwariskan nenek moyang yang datang dari Pulau Jawa di era kejayaan Majapahit dan menari tifa. Mereka tetap setia memasak minyak kayu putih meski tambang emas dan telepon seluler dari China dan Finlandia menggempur kehidupan mereka.

Dunia yang Membingungkan 

Dunia yang menyatu, terintegrasi memang belum dinikmati semua bangsa dari berbagai kelas. Ada yang memilih bertarung habis-habisan, ada yang tak memedulikannya, tetapi ada yang membangun dinding besar-besaran, memilih jalur proteksionisme. Jangankan businessman, politisi yang sering jalan-jalan ke luar negeri saja bisa tersesat dalam perangkap ideologi globalisasi menurut versinya sendiri.

Menurut Ian Bremmer dan David Gordon, kalau logikanya benar, inilah era yang disebut G-Zero. Era di mana tak ada negara yang dapat dijadikan role model karena globalisasi tengah mengarah pada memudarnya kepemimpinan global. Jadi bukan G-20, bukan G- 7, G-3 atau G-2 lagi yang mengatur dunia, melainkan G-Zero. Umpatan ”neolib” belakangan banyak diucapkan di sini untuk menolak kehadiran globalisasi, bahkan memfatwakan mekanisme pasar sebagai gerakan ”tak bermoral”.

Padahal ketika para teknokrat menggaungkan langkah deregulasi yang marak sebagai paket ekonomi era 1980–1990-an, tak ada yang menentangnya. Deregulasi disambut hangat karena peran negara saat itu begitu dominan. Deregulasi adalah bagian dari arus globalisasi, bahkan anak emas neoliberalisme. Caci maki terkuat di era 1980–1990-an sepertinya hanya terjadi di Inggris saat pemerintahan Margaret Thatcher yang dikenal sebagai Iron Lady.

Peran negara benar-benar dimundurkan ke belakang, diganti pasar secara besar-besaran. Beberapa kalangan mengakui itulah awal kebangkitan yang pahit. Demo besar dan krisis terjadi di era Thatcher. Di dunia global dia dianggap satu paket dengan Ronald Reagan. Tapi meski dituding sebagai kebangkitan neoliberalime, dipercaya keduanyalah yang mampu menyelamatkan kapitalisme. Sementara mereka yang memilih peran negara yang dominan justru mengalami kebangkrutan.

Negara-negara super seperti Uni Soviet bersama dengan sejarah komunismenya bangkrut. Bersama dengan China, mereka membuka diri menjadi ”pasar” yang bagi kaum tua dianggap ”tak bermoral” itu. Mereka tidak menerima persaingan dalam kehidupan, bagi mereka semua orang sebaiknya mendapat bagian yang sama dengan subsidi dari negara. Kalau para penolak arus globalisasi menuding lawannya sebagai ”neolib”, mereka sendiri tak mau disebut ”neokom”.

Tapi kalau ditelisik memang mereka menghendaki peran negara yang besar, sentralisme, kurang mendukung persaingan bebas, menuntut subsidi di banyak sektor, dan tak ada pemikiran tentang efisiensi atau skala ekonomis. Bahkan pendekatannya pun menjadi dialektis-konfrontatif. Saya masih ingat di awal 1990-an serombongan pejabat dari Bappenas mengunjungi kampus saya di Amerika Serikat. Mereka meminta diperkenalkan dengan profesor-profesor ekonomi terkenal.

Namun di hadapan tokoh-tokoh penerima hadiah Nobel ekonomi itu terjadi dialog yang menarik. Bappenas mencari mentor yang bisa mengajari mereka ekonomi perencanaan, sementara penerima hadiah Nobel mengatakan ekonomi perencanaan yang sentralistis sudah mati dan tak akan ditemui di kampus mana pun, kecuali di Rusia (sebelum perang berakhir). Dikotomi pasar-perencanaan mulai terkuak dan gagasan desentralisasi mulai dibicarakan.

Namun, di era itu, tak mudah manusia mencernanya. Bahkan model paradoks seperti yang dipraktikkan di China sekarang saja belum kelihatan. China mempraktikkan mekanisme pasar di bawah kepemimpinan Partai Komunis. Anak kesayangannya, Vietnam, mengatakan market mechanism under socialism leadership. Di banyak negara muncul gejolak yang membingungkan yang menolak globalisasi dengan berbagai pemikiran.

Mekanisme pasar tak pernah terjadi secara sempurna, sedangkan peran negara juga sering mengalami kegagalan (government failure). Anda mungkin masih ingat umpatan Rupert Murdock yang sangat terkenal yang ditujukan pada kapitalisme Amerika Serikat di awal krisis. Dia mengatakan, ”Kalian mengatakan krisis terjadi karena pasar yang gagal, kehancuran dunia keuangan Amerika justru diawali keinginan pemerintah agar rakyat bisa membeli rumah murah dan Fannie Mae didorong memberi kredit perumahan secara besar-besaran.”

Di Indonesia, kita bingung melihat pemerintah ragu-ragu membatasi pemakaian subsidi BBM. Bahkan membiarkan barang subsidi itu dipakai untuk kegiatan ”bersenang-senang” oleh rakyatnya, baik untuk geng motor, pelesiran ke Puncak atau menikmati mobil mewah berkeliling jalan tol yang macet atau seperti menyaksikan auto show saat kondangan.

Dalam bidang pendidikan, kelas menengah yang mampu membayar harga pasar ”dipaksa” menikmati biaya SPP bersubsidi, sementara sekolah asing dibiarkan beroperasi di sini. Sekolah murah tentu tak boleh berkualitas murahan, tetapi bayaran terhadap PNS yang murah hanya menghadirkan pelayanan yang buruk,low quality, dan komplain. Akhirnya, ketidakjelasan sikap hanya mengakibatkan ”pasar”dinikmati pemain-pemain asing.

Empat Dunia 

Sementara dunia sendiri tengah berintegrasi, deregulasi dan regulasi tengah bertarung di sini. Indonesia sendiri seperti tengah kebingungan, demikian juga politisi dan ekonomnya yang dibesarkan dalam pemikiran-pemikiran silo-isme yang asyik dengan mainannya sendiri-sendiri. Ekonom yang dulu bisa memimpin pemikiran-pemikiran ekonomi kini justru berada di bawah kendali mesin-mesin partai politik.

Suara mereka tak selantang pemilik polling atau pemegang corong di parlemen. Di tengah-tengah pemikiran itu,muncul pemikiran yang justru datang dari ekonomi pinggiran. Pankaj Ghemawat dari Harvard (dan sekarang menjadi guru besar di IESE Business School Barcelona) membagi gejala globalisasi ini ke dalam empat kriteria yang dia sebut World 0.0,World 1.0, World 2.0, dan World 3.0.

Membaca pemikiran itu akan jelas di mana Anda berada dan mengapa dialog mengenai subsidi dan neolib di sini menjadi kumuh dan tak berujung. Tentu saja dampaknya akan terasa pada bagaimana para CEO menempatkan dirinya di tengah pusaran perubahan ini. Kalau ekonominya sedang membaik,harusnya usaha Anda ikut tumbuh dan akan banyak ada kemudahan.

Dalam realitasnya, justru banyak incumbent yang ”terkapar” dalam ekonomi tanjakan ini. Mirip truk-truk besar yang mogok di tanjakan Pancoran atau Slipi di dalam jalan tol yang harusnya lancar dan membuat Anda bisa lebih cepat sampai. Saya akan mengulasnya dalam kolom ini minggu depan.

RHENALD KASALI
Ketua Program MMUI

Artikel di Sindo

Low Cost Energy – Sindo 25 April 2012

Saat kolom ini ditulis,saya sedang berada di Kampus Yale, Amerika Serikat, menjalin kerja sama antara program MMUI dengan sekolah bisnis ini.

Melalui kerja sama, anak didik kami akan bisa meraih double degree di program MBA Yale setelah setahun kuliah di Jakarta. Indonesia masih membutuhkan orang-orang pandai untuk membangun kembali industrinya dari keterpurukan dan melemahnya daya saing sektor industri dan jasa pada beberapa tahun terakhir ini. Lantas mengapa Amerika? Bukankah negeri ini tengah dilanda krisis?

Low Cost Energy 

Laporan yang dibuat majalah The Economist(21 April2012) menyebutkan, negara-negara yang beberapa tahun terakhir ini menikmati migrasi industri (seperti China dan India) justru tengah bergulat melawan kenaikan biaya produksi. Sementara di negara-negara pengembang teknologi digital, sebuah revolusi tengah terjadi. Dan bila menjadi kenyataan, banyak negara berkembang akan mengalami boomerang efect sehingga kekayaannya akan kembali dinikmati negaranegara industri.

Di lobi penginapan Yale Club yang anggun di New York, para CEO yang saya temui mulai berani mendiskusikan kebangkitan ekonomi Amerika. Setelah merevolusi dunia penerbangan dengan low cost carrier, kini para CEO mulai bicara tentang low cost energy. Mereka mengacu pada langkah CEO Exxon Mobil Corporation Rex W Tillerson yang dua tahun lalu mengakuisisi XTO Energy untuk mendapatkan teknologi dan keahlian hydraulic-fracturing untuk menyerap gas alam yang terperangkap lapisan-lapisan batu (shale) di dalam perut bumi.

Mereka menyebut energi murah itu sebagai shale gas. Selama puluhan tahun para ahli kebingungan mencari jalan untuk menarik gas itu keluar. Melalui serangkaian eksperimen dan inovasi, langkah yang dimulai pada 1980-an itu mulai menemukan teknologinya beberapa tahun terakhir ini. Maka,meski cadangan shale gas ada di beberapa negara, baru Amerika Serikat yang berhasil menariknya keluar. Tidak mengherankan, di Era Tillerson harga saham Exxon melonjak hingga 77%. Bahkan Exxon mulai mengalihkan eksplorasinya secara perlahan-lahan dari minyak ke gas.

Menurut majalah Fortune (30 April 2012), kini 50% produksi energi Exxon difokuskan pada gas alam (shale gas) yang harganya sudah bisa dijual sepersepuluh dari harga minyak bumi yang semakin hari semakin mahal. Menurut sejumlah ahli minyak yang saya hubungi, sejumlah negara industri sudah meminta Pemerintah Amerika Serikat agar mengizinkan gas ini diperdagangkan di pasar bebas dunia. Namun Amerika Serikat masih bergeming dengan dalih low cost energy merupakan “senjata” penting bagi Amerika untuk bangkit dari krisis yang sama pentingnya dengan upah buruh yang murah di China dan India.

Low cost energy bagi Amerika Serikat akan mampu menjadikan industrinya “kembali” pulang di tengah harga minyak dunia yang terus melambung dan mengancam industri di negara-negara lain. Sejak tahun 2005, produksi gas alam Amerika Serikat telah meningkat sebanyak 28% dan pada tahun lalu komposisi shale gas telah menjadi 33%, naik tiga kali lipat sejak 2008. Pada tahun lalu saja, shale gas telah menampung lebih dari 650.000 tenaga kerja.

Sekarang bayangkanlah kebangkitan seperti apa yang akan melanda negara industri dan gonjang-ganjing macam apa pula yang akan mewarnai Asia dan Timur Tengah bila shale gas mampu menggantikan atau menjadi substitusi minyak dan gas alam lainnya yang selama ini diperdagangkan dengan harga yang tinggi? Saat ini saja, menurut BP Migas, produksi gas alam Indonesia telah mencapai 8.673 mmscfd (million standard cubic feed per hari) dan 53% di antaranya diekspor ke pasaran internasional dengan harga USD72 per bue (barrel unit equivallent) atau menghasilkan devisa sekitar USD11 miliar per tahun (Detik.com).

Indonesia bukan tidak punya cadangan shale gas. Tapi untuk mengeksplorasinya Indonesia butuh empat hal berikut ini. Pertama, cara berpikir yang benar-benar baru. Kedua, kepastian berusaha yang menarik dan keputusan yang firm. Ketiga, partner yang memiliki teknologi memadai dan, keempat, modal besar yang disertai insentif yang diciptakan dengan IRR yang positif. Keempat hal ini tampaknya sulit dipenuhi kalau pemerintah selalu ragu dalam bertindak untuk menciptakan energy security dan politisinya penuh kecurigaan dan saling menghambat-membatalkan. Bandingkanlah dengan Chinayang begitu tanggap mengambil sikap.

China memiliki 25,08 tcf (trilllion cubic feed) cadangan shale gas, tetapi tidak memiliki teknologi yang memadai. Demi mencegah daya saingnya direbut Amerika Serikat, China sudah menugasi tiga BUMN energinya untuk melakukan eksplorasi dalam bidang ini. Petro China, CNOOC, dan CNPC masing-masing sudah membentuk konsorsium dan menarik investor baru. Demikian pula langkah-langkah konkret sedang diambil Pemerintah Brasil, Argentina, dan Inggris. Sementara Indonesia masih ribut dengan masalah-masalah sepele dan pikirannya masih ada di sekitar minyak bumi, subsidi, kilang, VLCC, dan seterusnya.

Gasland 

Sebuah potongan film dokumenter yang berjudul Gasland, pada saat yang bersamaan, masuk ke dalam surat elektronik (email) saya. E-mail itu dikirim seorang kolega yang mengetahui bahwa saya tengahmenulis buku tentang energi bersama dengan mantan Dirut Pertamina Ari Sumarno. Gasland, judul film dokumenter yang dinominasikan untuk penghargaan Oscar dan dibuat Josh Fox (2010), bercerita tentang bencana yang ditimbulkan oleh shale drilling untuk mendapatkan gas murah (shale gas) dari perut bumi.

Gas drilling dilakukan secara horizontal dengan memecahkan bebatuan di dalam perut bumi, menciptakan fraktur, lalu dengan menyemprotkan cairan, mereka akan menyedot gas yang tersimpan di dalam bebatuan. Film ini mewakili pikiran para pejuang lingkungan yang percaya metode hydraulic fracking sangat mengancam kehidupan. Josh menunjukkan kerusakan-kerusakan yang ditimbulkan oleh metode drilling ini yang bisa menimbulkan kontaminasi pada air minum, keretakan tanah, bahkan menimbulkan gempa bumi.

Ia sempat hadir dalam beberapa kali rapat dengar pendapat di parlemen dan berusaha keras memutar filmnya di hadapan para senator, tetapi ia dikeluarkan dari ruangan secara paksa. Namun, seperti biasa, suatu potensi ekonomi yang besar bukan tanpa biaya. Selain masalah teknologi, dunia juga akan mendebatkan masalah keamanan dan lingkungan. Itu sebabnya Prancis dan Jerman sudah memutuskan tidak akan memasuki bisnis shale gas. Demikian juga dengan Rusia. Tapi masalah dan kepentingan mereka berbeda-beda. Rusia misalnya masih memiliki cadangan gas alam yang begitu besar dan mudah diambil.

Tapi di Amerika Serikat yang perdebatannya telah lama dimulai kelihatannya telah tercapai suatu kesepakatan bahwa lebih banyak manfaat daripada mudaratnya. Apalagi mereka menemukan sejumlah kejanggalan di balik pembuatan film Gasland. Publik tampaknya lebih memilih gas alam yang murah dan ramah lingkungan ketimbang batu bara yang dipercaya lebih berbahaya.

Tapi, di sini, kalau kontraktor tidak diawasi dengan baik, masyarakat rasanya masih trauma melihat lumpur yang tak kunjung berhenti keluar dari perut bumi. Jadi ke mana kita akan membawa masa depan energi kita? Kalau kita seperti ini terus, bukan hanya pusing kalau harga minyak naik, melainkan juga ribut kalau harga gas dunia turun.Sebuah cara berpikir dan bertindak baru jelas sangat dibutuhkan dan ini hanya bisa dicapai kalau pihak-pihak yang memutuskannya bebas dari kepentingan personal.

Rhenald Kasali

Owner Rumah Perubahan

Artikel di Sindo